Allegri Dihukum Larangan Bertanding Usai Ngamuk di Final Coppa Italia

Milan, Italia – Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, dihukum larangan bertanding dua pertandingan Coppa Italia oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) setelah ngamuk di final Coppa Italia melawan Atlanta pada Rabu (16/5/2024) malam.

Allegri terlihat marah besar kepada wasit setelah gol penentu kemenangan Atlanta dicetak oleh Federico Dimarco di menit ke-72. Dia kemudian melontarkan kata-kata kasar kepada wasit dan berusaha menyentuh wajahnya.

Aksi Allegri itu berujung kartu merah dari wasit Daniele Orsato. Dia pun harus meninggalkan lapangan dan tidak bisa menyelesaikan pertandingan.

FIGC kemudian menjatuhkan hukuman larangan bertanding dua pertandingan Coppa Italia kepada Allegri. Dia tidak akan bisa mendampingi Juventus di dua pertandingan Coppa Italia berikutnya, termasuk di semifinal jika timnya lolos.

Hukuman ini merupakan pukulan telak bagi Juventus, yang sedang berusaha bangkit di Coppa Italia setelah gagal di Serie A musim ini. Tim asuhan Allegri harus berjuang tanpa pelatihnya di dua pertandingan penting.

Reaksi Allegri

Allegri sendiri belum memberikan komentar terkait hukuman yang diterimanya. Dia dikabarkan sangat kecewa dengan keputusan wasit dan merasa dirugikan.

Beberapa pihak menilai hukuman yang dijatuhkan kepada Allegri terlalu berat. Mereka berpendapat bahwa Allegri hanya menunjukkan emosinya dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan.

Namun, pihak lain berpendapat bahwa Allegri harus dihukum karena perilakunya yang tidak sportif. Mereka berharap hukuman ini bisa menjadi pelajaran bagi Allegri dan pelatih-pelatih lain agar tidak melakukan hal serupa di masa depan.

Dampak Hukuman

Hukuman larangan bertanding ini tentu akan berdampak pada Juventus. Allegri adalah sosok penting bagi tim dan perannya tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Kehilangan Allegri di dua pertandingan Coppa Italia berikutnya bisa membuat Juventus kesulitan untuk meraih kemenangan. Tim asuhannya harus berjuang ekstra keras untuk bisa lolos ke final.

Kasus ini menjadi pengingat bagi para pelatih untuk selalu menjaga emosinya di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *