Larangan Iklan Rokok: Pengusaha Rokok “Tercekik” Aturan Pemerintah

Jakarta, 2 Juni 2024 – Dunia industri rokok kembali diguncang dengan kebijakan baru pemerintah yang melarang iklan rokok di berbagai media. Kebijakan ini sontak menuai pro dan kontra, terutama dari kalangan pengusaha rokok yang merasa “tercekik” dengan aturan tersebut.

Larangan iklan rokok ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2023 tentang Pengendalian Reklame Rokok. PP ini resmi diberlakukan pada 1 Juni 2024, dan melarang iklan rokok di media massa, media elektronik, media luar ruang, dan media sosial.

Para pengusaha rokok mengaku kaget dan kecewa dengan kebijakan ini. Mereka beralasan bahwa larangan iklan akan berdampak besar pada penjualan rokok dan mengancam kelangsungan hidup bisnis mereka.

“Ini seperti mencekik leher kami,” ujar Anton, salah satu pengusaha rokok di Jakarta. “Iklan adalah salah satu strategi utama kami untuk menjangkau konsumen. Tanpa iklan, penjualan kami pasti akan anjlok.”

Anton menambahkan bahwa larangan iklan ini juga akan berdampak pada para pekerja di industri rokok. “Ada banyak orang yang bekerja di industri ini, mulai dari petani tembakau, buruh pabrik, hingga distributor. Larangan iklan ini bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan.”

Di sisi lain, pemerintah bersikukuh bahwa larangan iklan rokok ini bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat. Menurut data Kementerian Kesehatan, konsumsi rokok di Indonesia masih tergolong tinggi, dan hal ini menjadi salah satu faktor utama penyebab penyakit tidak menular seperti kanker paru-paru, stroke, dan jantung.

“Iklan rokok terbukti ampuh untuk menarik minat para perokok, terutama anak-anak dan remaja,” ujar dr. Maya, juru bicara Kementerian Kesehatan. “Makanya, larangan iklan ini menjadi langkah tegas pemerintah sangat penting untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok.”

Pemerintah juga berjanji untuk membantu para pengusaha rokok dalam beradaptasi dengan aturan baru ini. Salah satunya dengan memberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan strategi pemasaran alternatif yang tidak melibatkan iklan.

Namun, para pengusaha rokok masih skeptis dengan janji pemerintah tersebut. Mereka khawatir bahwa strategi pemasaran alternatif tidak akan seefektif iklan, dan hal ini akan membuat bisnis mereka semakin terpuruk.

Perdebatan tentang larangan iklan rokok ini tampaknya akan masih terus berlanjut. Di satu sisi, pengusaha rokok khawatir akan kehilangan keuntungan dan pekerjaan. Di sisi lain, pemerintah bersikukuh bahwa larangan ini demi kesehatan masyarakat.