Film Civil War Mengambarkan Kekejaman Perang Saudara di Masa Depan

Bayangan Masa Depan yang Menyeramkan” membahas film terbaru Alex Garland dengan judul yang sama. Artikel ini mengulas film dari beberapa sudut pandang, termasuk:

Sinopsis:

Filem Civil War Garapan terbaru dari Alex Garland, menceritakan seorang  presiden (Nick Offerman) yang sudah mempersiapkan diri untuk berpidato. Isi pidatonya menceritakan bagaimana ia berhasil meredam teror anarkis dari masyarakat yang mencoba melawannya pemerintahanya. Di lihat dari cara dia berlatih, penonton bioskop juga bisa langsung menilai bahwa apa yang dilakukan presiden lebih meyakinkan diri sendiri bahwa dia menang. Adegan dalam filem Civil War ini langsung mengkonfirmasi asumsi ini.

Pada masa depan yang akan datang, Alex Garland menceritakan bayangan Amerika berada di tengah-tengah perang sipil sesama saudara. Dimana Negara-negara bagian amerika terpecah belah, dan masing-masing memiliki kelompok untuk berafiliasi sendiri-sendiri. Menurut Lee Smith (Kirsten Dunst) seorang fotografer perang yang kaya akan pengalaman menyaksikan semua kegilaan dalam perang saudara ini.

Pada sebuah adegan dia pernah menceritakan bahwa ketika ia memotret kekejaman perang saudara di negara bagian amerika lainnya, Sebagai seorang fotografer fotonya akan menjadi pengingat agar tjangan sampai terjadi di masa depan sekarang. Ternyata kenyataan berkata lain , dia sekarang berada di tengah-tengah perang saudara ini.

Bersama Partner kerja terbaiknya  Lee atau Joel (Wagner Moura), seorang jurnalis profesional. menceritakan Keduanya akan berencana untuk berangkat ke DC. Kedua partner ini merasa sangat yakin bahwa dalam beberapa hari kedepan Washington akan segera dilumpuhkan dan presiden diktator itu akan segera menjadi kenangan.

Kedeua partner ini mengajak Sammy (Stephen McKinley Henderson), seorang jurnalis senior yang sudah kaya akan pengalama dan sudah berusia senja, meminta bergabung dalam perjalanan yang penuh bahaya ini. Ternyata kejutan tidak berhenti di sini . Sorang fotografer Muda bernama Jessie (Cailee Spaeny), yang sempat diselmatkan oleh lee waktu meliput terjadinya teror, dan akhirnya bergabung. Akhirnya Berangkatlah keempat orang ini dalam perjalanan mengerikan yang penuh dengan bahaya di New York ke Washington DC mereka  merekam setiap kejadian yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya.

Alex Garland membayangkan Amerika akan menghadapi perang sipil yang sebenarnya, dan bukan merupakan gambaran yang terlalu jauh untuk saat ini. Sebagai Negara super power pasti  terbagi dalam semua aspek kepentingan.


Alex Garland memutuskan untuk tidak berpijak pada Ideologi Politik mana pun karena akan menghasilkan dua sisi mata  pisau yang tidak bisa dihindari. Hal paling menarik adalah karakter dalam filmnya, Alex Garland sengaja menempatkan penonton di posisi netral. Ia membuat pertanyaan menarik sepanjang film.

  • Film ini dibuka dengan presiden (diperankan oleh Nick Offerman) yang mempersiapkan pidato tentang bagaimana dia berhasil meredam teror masyarakat yang mencoba melawannya.
  • Kekacauan yang digambarkan dalam film ini cukup gegap gempita, dengan ledakan, suara tembakan, dan helikopter yang terbang.

Pengalaman IMAX:

  • Menonton film ini di IMAX dengan layar lebar dan tata suara yang mengagumkan membuat penonton merasa seperti berada di dalam film.
  • Setiap ledakan, suara tembakan, dan helikopter yang terbang terasa lebih menegangkan dan menyeramkan.

Interpretasi:

  • Artikel ini menginterpretasikan film sebagai gambaran masa depan yang menyeramkan di mana presiden memiliki kekuatan absolut dan masyarakat ditindas.
  • Film ini juga dilihat sebagai kritik terhadap pemerintah yang otoriter dan pentingnya kebebasan berbicara.

Secara keseluruhan, artikel ini memberikan ulasan positif terhadap film “Civil War” dan merekomendasikannya untuk ditonton.

Berikut beberapa poin penting dari artikel:

  • Film ini telah menerima pujian atas akting, penyutradaraan, dan naskahnya.
  • Film ini dianggap sebagai gambaran masa depan yang menyeramkan di mana presiden memiliki kekuatan absolut dan masyarakat ditindas.
  • Film ini juga dilihat sebagai kritik terhadap pemerintah yang otoriter dan pentingnya kebebasan berbicara.