Konflik melanda dunia tetapi pemerintah indonesia seperti mendapat durian runtuh

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa saat ini Indonesia berhasil memanfaatkan ketegangan-ketegangan yang sedang melanda dunia. Gejolak saat ini justru membuat indonesia sangat di untungkan sekalai. Karena harga berbagi macam komoditas saat ini sangat menguntungkan Indonesia.
Contohnya, seperti harga nikel terus naik dari US$ 12 ribu per ton menjadi naik US$ 18 ribu per ton. Berita ini  disampaikan langsung oleh Airlangga dalam seminar ekonomi Perspektif Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045 yang semakin terlihat jelas dan nyata.

Beliu juga menambahkan berbagai krisis saat juga membuat safe haven mulai beralih ke emas sehingga membuat harga berbagai komoditas unggulan tersebut naik. Karena harga emas yang naik maka ekonomi Indonesia juga semakin naik.

Setiap kali ada krisis atau ketegangan, safe haven-nya pasti beralih ke emas karena dianggap yang nilainya paling setabil. Karena harga emas naik, ekonomi kita juga naik,” menurutnya.

Airlangga juga sedang mengamati beberapa daerah di Indonesia yang berbasis pertambangan dan hilirisasi pasti juga akan tumbuh sangat positif. Wilayah tersebut,di antaranya adalah Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Berdasarkan peta wilayah ini, pertumbuhan kita juga sedang semakin positif, di wilayah Kalimantan, Maluku, Papua, Semua orang mengetahui kalau ketiga wilayah ini adalah basis utama pertambangan dan hilirisasi, terutama dari smelter dan yang lain,” imbuhnya.

Airlangga juga  membicarakan konflik global yang saat ini masih terus terjadi. Contohnya perang Rusia dan Ukraina yang belum selesai hingga konflik di Timur Tengah antara israel dan palestina yang masih panas.

Akibat gejolak konflik global saat ini, Indonesia bagaikan mendapat durian runtuh. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, seperti:

Kenaikan Harga Komoditas: Konflik, terutama di Ukraina, memicu lonjakan harga energi dan pangan. Indonesia, sebagai eksportir utama komoditas seperti batubara, sawit, dan nikel, diuntungkan dengan kenaikan harga ini. Penerimaan negara dari sektor ini meningkat, sehingga membuka peluang untuk meningkatkan belanja pemerintah dan mengurangi defisit fiskal.

Aliran Modal: Investor global mencari tempat yang aman untuk berinvestasi di tengah ketidakpastian. Indonesia, dengan stabilitas politik dan ekonominya yang relatif baik, menjadi tujuan menarik. Hal ini mendorong masuknya aliran modal asing, baik dalam bentuk investasi langsung maupun portofolio, yang selanjutnya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Peluang Baru: Konflik global juga membuka peluang baru bagi Indonesia. Contohnya, negara-negara Barat yang ingin mengurangi ketergantungan pada Rusia untuk energi dapat beralih ke Indonesia sebagai pemasok batubara. Selain itu, Indonesia juga dapat mengambil peran sebagai penengah dalam konflik global, meningkatkan citra Indonesia di kancah internasional.

Namun, perlu diingat bahwa keuntungan ini bukan tanpa risiko.

Dampak Negatif: Kenaikan harga energi dan pangan dapat memicu inflasi di dalam negeri. Pemerintah perlu langkah-langkah untuk meredam inflasi dan melindungi masyarakat miskin. Selain itu, konflik global juga dapat mengganggu rantai pasokan dan perdagangan internasional, yang berdampak pada sektor-sektor tertentu di Indonesia.

Penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan keuntungan ini dengan bijak.

Pemerintah perlu menggunakan dana tambahan dengan hati-hati dan produktif, melakukan investasi di bidang infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Selain itu, Indonesia juga perlu memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional untuk meminimalkan dampak negatif dari konflik global.