Viral Pengiriman Jenazah Kena Pajak, Akhirnya DJBC Tempuh Jalur Hukum

Setelah cuitan Viral akhirnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan meminta pertanggung jawaban kepada netizen setelah membuat geger dunia maya dengan cuitan mengenai importasi peti jenazah. Berdasarkan Cuitan itu menjelaskan kalau temannya diminta membayar pungutan bea masuk 30% dari harga peti jenazah saat membawa pulang jenazah mendiang sang ayah dari Penang, Malaysia. Menurut Gatot S Wibowo sebagai kepala Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta menegaskan bahwa informasi itu sangatlah tidak benar. Setelah dilakukan penelusuran secara menyeluruh pengiriman terakhir peti jenazah dari Penang, Malaysia, memmastikan tidak akan melakukan tagihan  bea masuk ataupun dari pajak impor. berdasarkan keterangan resmi Gatot, Minggu (12/5/2024).

Menurut Tim DJBJ Jika tidak ada bukti yang mendukung informasi tersebut maka dikatakan bohong (hoaks), Tim akan minta pertanggungjawaban dari terduga yang bersangkutan dan Tim juga masih mempertimbangkan untuk menempuh sistem hukum berdasarkan peraturan perundangan undangan yang berlaku saat ini.


Menurut acuan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.05/1997 Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Peti Atau Kemasan Lain yang Berisi Jenazah atau Abu Jenazah, disebutkan bahwa peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah adalah peti atau kemasan dengan tidak memandang jenis atau komposisi, yang digunakan untuk menyimpan jenazah atau abu jenazah bagi keperluan pengangkutan ke dalam daerah pabean Indonesia, diberikan pembebasan bea masuk.

Mereka menegaskan pengiriman rush handling atau pelayanan terhadap importasi terhadap peti jenazah. Apabila dikenakan biaya atau pungutan tambahan, Maka itu berdasarkan keputusan pihak handling cargo jenazah bukan untuk biaya tambahan dalam pengurusan jenazah seperti sewa gudang, ambulans dan lainnya.

Benar, Bea Cukai (DJBC) berencana menindaklanjuti secara hukum cuitan viral di media sosial mengenai peti mati yang dikenakan pajak bea masuk. Cuitan tersebut memicu kegaduhan di masyarakat dan dianggap telah mencemarkan nama baik institusi Bea Cukai.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani, menegaskan bahwa peti mati tidak termasuk barang yang dikenakan bea masuk. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 199/PMK.10/2019 tentang Tarif Bea Masuk dan Bea Impor.

Askolani menjelaskan bahwa peti mati dikategorikan sebagai “barang lain” dan tidak termasuk dalam daftar barang yang dikenakan bea masuk. Oleh karena itu, cuitan yang menyatakan bahwa peti mati dikenakan pajak bea masuk adalah tidak benar dan menyesatkan.

Bea Cukai telah meminta klarifikasi kepada netizen yang membuat cuitan tersebut. Jika netizen tersebut tidak dapat memberikan bukti yang mendukung cuitannya, Bea Cukai berhak untuk menempuh jalur hukum.

Askolani mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial, terutama informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Bea Cukai memiliki website resmi dan media sosial resmi yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya.

Berikut beberapa poin penting terkait cuitan viral pengiriman jenazah kena pajak:

  • Bea Cukai menegaskan bahwa peti mati tidak termasuk barang yang dikenakan bea masuk.
  • Cuitan yang menyatakan bahwa peti mati dikenakan pajak bea masuk adalah tidak benar dan menyesatkan.
  • Bea Cukai telah meminta klarifikasi kepada netizen yang membuat cuitan tersebut.
  • Bea Cukai berhak untuk menempuh jalur hukum jika netizen tersebut tidak dapat memberikan bukti yang mendukung cuitannya.
  • Masyarakat diimbau untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial.

Semoga informasi ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *